Langsung ke konten utama

Kasus Hoax Ratna Sarumpaet Ditolak Jaksa Karena Belum Lengkap, Polisi Bolak Balik Kejaksaan


Berkas perkara dengan nama Ratna Sarumpaet di halaman depannya belum juga diletakkan di meja pengadilan. Berkas itu sempat meluncur ke meja jaksa hingga akhirnya kembali lagi ke tangan penyidik karena ada kelengkapan yang belum tuntas.

Ratna menjadi tersangka sejak Oktober 2018. Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Metro Jaya yang menangani perkara itu kemudian memanggil satu per satu saksi serta memproses penyidikan perkara dengan dugaan pelanggaran pada Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Pidana Hukum dan Undang-Undang ITE Pasal 28 juncto Pasal 45.


Dalam prosesnya, Ratna sempat mengajukan diri sebagai tahanan kota tetapi ditolak penyidik. Hingga pada bulan November, berkas perkara Ratna dilimpahkan ke kejaksaan dengan total 32 Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan lampiran 63 barang bukti.

Namun masih di bulan yang sama, Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta merasa ada kekurangan syarat formil dan materiil dalam berkas itu. Jaksa peneliti pun mengembalikan berkas itu ke polisi.

Dari kurun waktu November hingga saat ini di awal tahun 2019, polisi melengkapi berbagai kekurangan yang disebutkan jaksa. Dalam waktu dekat, polisi bersiap melimpahkan berkas itu lagi ke jaksa.


"Untuk berkas Ratna Sarumpaet tadi komunikasi dengan penyidik katanya minggu depan akan kami limpahkan kembali ke Kejati," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro, Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (4/1/2019).

Untuk melengkapi berkas, polisi kemudian memanggil sejumlah saksi lagi, yakni Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Nanik S Deyang, dan akademisi Rocky Gerung. Keduanya ditanya soal alur foto lebam Ratna yang jadi viral.
(dhn/idn)

Postingan populer dari blog ini

Presiden Donald Trump Resmi Dilengserkan, Presiden Ketiga dalam Sejarah AS

Donald Trump WASHINGTON DC  - Presiden AS Donald Trump resmi menjadi presiden ketiga dalam sejarah Negeri "Uncle Sam" yang dimakzulkan atau impeachment. Dalam sidang paripurna yang digelar Rabu malam waktu setempat (18/12/2019), DPR AS menyetujui dua pasal pemakzulan terhadap presiden 73 tahun itu. Pasal pertama: Penyalahgunaan Kekuasaan, mendapat dukungan 230, dengan 197 politisi House of Representatives. Adapun jumlah minimal dukungan yang diperlukan di DPR AS guna membawa proses pemakzulan Trump ke level Senat adalah 216. Sementara pasal 2: Menghalangi Penyelidikan Kongres menerima dukungan 229, dalam hasil yang dibacakan Ketua DPR AS Nancy Pelosi. Trump pun menjadi presiden setelah Andrew Johnson (1868), dan Bill Clinton (1998) yang dimakzulkan di level DPR AS. Setelah ini, tahap selanjutnya dalam proses pemakzulan adalah membawa resolusi tersebut ke level Senat, di mana mereka akan membahasnya tahun depan. Di tahap ini, kecil kemungkinan Tr

Diguyur Hujan Deras Senayan Digenangi Banjir Setinggi 1 Meter

Jakarta - Hujan deras mengguyur Jakarta hingga berjam-jam membuat beberapa titik di Ibukota terendam banjir. Seperti yang terjadi baru-baru ini di daerah Senayan, Senin (17/12/2019) Terlihat dari  video  unggahan oleh seorang Netizen yang dibagikan di grup laman Facebooknya, Daniel Pray , membagikan unggahan video yang menunjukan aktivitas pengendara yang sibuk menyelamatkan kendaraan mereka yang terendam banjir.  Senayan terendam banjir, Senin, (17/12/2019) Dari unggahan tersebut beberapa komentar kocak dan nyeleneh muncul, diantara : Natalia Claudia Soetantiyo   Wuihh keren banget jakarta kaya venice 1 Sembunyikan atau laporkan ini Suka  ·  2 jam Harry Ibrani   Salah ahokkk Sembunyikan atau laporkan ini Suka  ·  1 jam Wendy Tjandra   Jelas ahok yg salah.. kenapa dia sampe kalah dan tidak menjadi gubenur jakarta!!  Kalo gabener skr jgn disalahin lah, percuma dia pinter ngeles..

Setya Novanto Tak Rela Melepaskan Kedua Jabatannya

Setya Novanto alias Setnov masih belum mau melepaskan dua jabatan penting, baik sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Ketua Umum Partai Golkar. Lewat dua pucuk surat yang ditulisnya dua pekan lalu, Setnov meminta tak dilengserkan dari dua posisi tersebut. Mantan Bendahara Umum Partai Golkar itu meminta waktu untuk membuktikan bahwa dirinya tak terlibat dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP, yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. Setnov menyandang status tersangka dari Komisi Pemberantasan Korupsi untuk kedua kalinya, --setelah sebelumnya menang pada sidang praperadilan pertama. Kini, dia pun mengadu nasib kembali lewat praperadilan. Desakan Setnov mundur terus bermunculan dan semakin kuat menyusul penetapan tersangka dan penahanan Setnov yang dilakukan KPK. Mantan Ketua Fraksi Golkar itu sudah mendekam di Rumah Tahanan KPK sejak dua pekan lalu. Mayoritas anggota fraksi di dewan Senayan, di antaranya dari Fraksi PDIP, PAN, NasDem, Gerindra, PPP, Demokrat, PK