Langsung ke konten utama

Polisi Fokus Kejar Aliran Dana Saracen, Sehingga Jaringannya Bisa Terungkap Seutuhnya Terkait Siapa Yang Mendanai Dan Memesan

Polisi sedang memfokuskan diri menelusuri aliran dana keluar dan masuk terkait kelompok Saracen. Hal tersebut lebih diprioritaskan penyidik ketimbang meminta keterangan terpidana ujaran kebencian, Rizal Kobar, yang disebut turut andil dalam kasus ini.

"Semua kan berproses dalam arti penyidik ada skala prioritas. Yang bersangkutan kan sudah masuk ke dalam (penjara), sudah divonis enam bulan pidana penjara. Kemudian tentunya penyidik fokus kepada pengejaran aliran dana," kata Kepala Bagian Mitra Divisi Hubungan Masyarakat Polri Kombes Awi Setiyono di gedung Divisi Humas Markas Besar Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (5/9/2017).

Pengejaran aliran dana dilakukan oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri. "Selama benang merahnya tidak langsung fokus ke Rizal Kobar, penyidik tidak terlalu mengarah ke sana. Tapi itu jadi catatan penyidik bahwa Saracen terungkap dari Desember 2016, kasus yang pertama (penangkapan Rizal Kobar pada 2 Desember 2016)," sambung Awi.


Awi melanjutkan penyidik berencana memeriksa 17 saksi dalam kasus Saracen untuk mengumpulkan fakta hukum seputar kegiatan komunikasi para tersangka selama memproduksi konten ujaran kebencian, SARA, danhoax. Awi menambahkan penyidik terus mengumpulkan barang bukti dan alat bukti untuk mengungkap kelompok Saracen hingga tuntas.

"Rencana tindak lanjut masih akan memeriksa 17 saksi. Hal ini kan muncul dari BAP mereka (para tersangka), khususnya terkait dengan komunikasi, chatting antara mereka terkait dengan siapa sih yang membiayai. Untuk mengejar itu, polisi membutuhkan waktu mengumpulkan barang bukti dan alat bukti," terang Awi.

"Sehingga jaringan ini bisa diungkap dengan seutuhnya terkait siapa yang mendanai, siapa yang pernah memesan," imbuh Awi.

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan empat tersangka berinisial SRN, JAS, MFT, dan MAH. Keempat tersangka ditangkap di lokasi yang berbeda dalam kurun Februari-Agustus 2017.

Para tersangka dijerat Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 22 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan/atau Pasal 45 ayat 3 juncto Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 4 tahun penjara.

Terkait dengan Rizal Kobar, keterlibatannya disampaikan oleh Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Kombes Irwan Anwar kepada detikcom.

"Rizal Kobar salah satu dewan pakar struktur organisasi Saracen," kata Irwan pada Selasa (29/8). 

Postingan populer dari blog ini

Presiden Donald Trump Resmi Dilengserkan, Presiden Ketiga dalam Sejarah AS

Donald Trump WASHINGTON DC  - Presiden AS Donald Trump resmi menjadi presiden ketiga dalam sejarah Negeri "Uncle Sam" yang dimakzulkan atau impeachment. Dalam sidang paripurna yang digelar Rabu malam waktu setempat (18/12/2019), DPR AS menyetujui dua pasal pemakzulan terhadap presiden 73 tahun itu. Pasal pertama: Penyalahgunaan Kekuasaan, mendapat dukungan 230, dengan 197 politisi House of Representatives. Adapun jumlah minimal dukungan yang diperlukan di DPR AS guna membawa proses pemakzulan Trump ke level Senat adalah 216. Sementara pasal 2: Menghalangi Penyelidikan Kongres menerima dukungan 229, dalam hasil yang dibacakan Ketua DPR AS Nancy Pelosi. Trump pun menjadi presiden setelah Andrew Johnson (1868), dan Bill Clinton (1998) yang dimakzulkan di level DPR AS. Setelah ini, tahap selanjutnya dalam proses pemakzulan adalah membawa resolusi tersebut ke level Senat, di mana mereka akan membahasnya tahun depan. Di tahap ini, kecil kemungkinan Tr

Diguyur Hujan Deras Senayan Digenangi Banjir Setinggi 1 Meter

Jakarta - Hujan deras mengguyur Jakarta hingga berjam-jam membuat beberapa titik di Ibukota terendam banjir. Seperti yang terjadi baru-baru ini di daerah Senayan, Senin (17/12/2019) Terlihat dari  video  unggahan oleh seorang Netizen yang dibagikan di grup laman Facebooknya, Daniel Pray , membagikan unggahan video yang menunjukan aktivitas pengendara yang sibuk menyelamatkan kendaraan mereka yang terendam banjir.  Senayan terendam banjir, Senin, (17/12/2019) Dari unggahan tersebut beberapa komentar kocak dan nyeleneh muncul, diantara : Natalia Claudia Soetantiyo   Wuihh keren banget jakarta kaya venice 1 Sembunyikan atau laporkan ini Suka  ·  2 jam Harry Ibrani   Salah ahokkk Sembunyikan atau laporkan ini Suka  ·  1 jam Wendy Tjandra   Jelas ahok yg salah.. kenapa dia sampe kalah dan tidak menjadi gubenur jakarta!!  Kalo gabener skr jgn disalahin lah, percuma dia pinter ngeles..

Setya Novanto Tak Rela Melepaskan Kedua Jabatannya

Setya Novanto alias Setnov masih belum mau melepaskan dua jabatan penting, baik sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Ketua Umum Partai Golkar. Lewat dua pucuk surat yang ditulisnya dua pekan lalu, Setnov meminta tak dilengserkan dari dua posisi tersebut. Mantan Bendahara Umum Partai Golkar itu meminta waktu untuk membuktikan bahwa dirinya tak terlibat dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP, yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. Setnov menyandang status tersangka dari Komisi Pemberantasan Korupsi untuk kedua kalinya, --setelah sebelumnya menang pada sidang praperadilan pertama. Kini, dia pun mengadu nasib kembali lewat praperadilan. Desakan Setnov mundur terus bermunculan dan semakin kuat menyusul penetapan tersangka dan penahanan Setnov yang dilakukan KPK. Mantan Ketua Fraksi Golkar itu sudah mendekam di Rumah Tahanan KPK sejak dua pekan lalu. Mayoritas anggota fraksi di dewan Senayan, di antaranya dari Fraksi PDIP, PAN, NasDem, Gerindra, PPP, Demokrat, PK