Langsung ke konten utama

Setelah TPS 31 Menteng Viral Dengan Suara Anies-Sandi Melambung 1000%, Situs Mata Rakyat Segera Merevisi

Dugaan kecurangan yang dilakukan oleh KPPS dalam penghitungan cepat Rabu 19 April 2017 di TPS 31 Menteng jakarta selatan, menjadi viral. di media sosial yang kami publikasikan dengan judul "Temuan Kecurangan Penghitungan Suara di TPS 31 Menteng, Suara Anies-Sandi Melonjak 1000%".
Ini hasil penghitungan tanggal 19 April 2017 yang sempat viral di Media
Matarakyat.id merupakan sistus yang memuat informasi seputar pilkada dan penghitungan suara cepat, telah membuat kesalahan dalam input data suara yang sempat menuai kontroversi dan spekulasi dikalangan masyarakat. Di TPS tersebut Anies-Sandi hanya mendapatkan suara 88 suara dan Ahok-Djarot 268 suara, kemudian didata C1 pada situs Mata Rakyat, Anies Justru unggul dengan suara mencapai 881 suara. 

Walapun sekarang Mata Rakyat telah revisi data tersebut, tapi kesan masyarakat terhadap pilkada DKI ini tetaplah tidak fair karena ada indikasi-indikasi kecurangan yang dilakukan untuk memenangkan Anies-Sandi.
Ini Data C1 yang telah di revisi oleh Mata Rakyat


Pertarugan Pilkada DKI telah selesai, Ahok pun mengingatkan kepada seluruh pendukung dan relawannya untuk tidak mengungkit walaupun ada kecurangan yang telah terjadi, menandakan Ahok memang berjiwa besar dalam bertarung di Pilkadai DKI ini.  Bukti nyata kebesaran hatinya ketika berpidato di Metro Tv, ia katakan bahwa jakarta ini adalah "Tempat kita bersama".

Pesan kami kepada seluruh lembaga baik survey, KPU, Bawaslu dan media yang menyajikan informasi seputar pilkada, tolong bersifat netral agar masyarakat indonesia ini dicerdaskan dengan informasi yang benar-benar aktual dan dapat dipercaya, sehingga tidak menghilangkannya kepercayaan masyarakat terhadap media.

Begitu saja informasi dari kami, tentang revisi data C1 yang salah di input oleh situs Mata Rakyat.


Salam waras 2017

Postingan populer dari blog ini

Presiden Donald Trump Resmi Dilengserkan, Presiden Ketiga dalam Sejarah AS

Donald Trump WASHINGTON DC  - Presiden AS Donald Trump resmi menjadi presiden ketiga dalam sejarah Negeri "Uncle Sam" yang dimakzulkan atau impeachment. Dalam sidang paripurna yang digelar Rabu malam waktu setempat (18/12/2019), DPR AS menyetujui dua pasal pemakzulan terhadap presiden 73 tahun itu. Pasal pertama: Penyalahgunaan Kekuasaan, mendapat dukungan 230, dengan 197 politisi House of Representatives. Adapun jumlah minimal dukungan yang diperlukan di DPR AS guna membawa proses pemakzulan Trump ke level Senat adalah 216. Sementara pasal 2: Menghalangi Penyelidikan Kongres menerima dukungan 229, dalam hasil yang dibacakan Ketua DPR AS Nancy Pelosi. Trump pun menjadi presiden setelah Andrew Johnson (1868), dan Bill Clinton (1998) yang dimakzulkan di level DPR AS. Setelah ini, tahap selanjutnya dalam proses pemakzulan adalah membawa resolusi tersebut ke level Senat, di mana mereka akan membahasnya tahun depan. Di tahap ini, kecil kemungkinan Tr

Diguyur Hujan Deras Senayan Digenangi Banjir Setinggi 1 Meter

Jakarta - Hujan deras mengguyur Jakarta hingga berjam-jam membuat beberapa titik di Ibukota terendam banjir. Seperti yang terjadi baru-baru ini di daerah Senayan, Senin (17/12/2019) Terlihat dari  video  unggahan oleh seorang Netizen yang dibagikan di grup laman Facebooknya, Daniel Pray , membagikan unggahan video yang menunjukan aktivitas pengendara yang sibuk menyelamatkan kendaraan mereka yang terendam banjir.  Senayan terendam banjir, Senin, (17/12/2019) Dari unggahan tersebut beberapa komentar kocak dan nyeleneh muncul, diantara : Natalia Claudia Soetantiyo   Wuihh keren banget jakarta kaya venice 1 Sembunyikan atau laporkan ini Suka  ·  2 jam Harry Ibrani   Salah ahokkk Sembunyikan atau laporkan ini Suka  ·  1 jam Wendy Tjandra   Jelas ahok yg salah.. kenapa dia sampe kalah dan tidak menjadi gubenur jakarta!!  Kalo gabener skr jgn disalahin lah, percuma dia pinter ngeles..

Setya Novanto Tak Rela Melepaskan Kedua Jabatannya

Setya Novanto alias Setnov masih belum mau melepaskan dua jabatan penting, baik sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Ketua Umum Partai Golkar. Lewat dua pucuk surat yang ditulisnya dua pekan lalu, Setnov meminta tak dilengserkan dari dua posisi tersebut. Mantan Bendahara Umum Partai Golkar itu meminta waktu untuk membuktikan bahwa dirinya tak terlibat dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP, yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. Setnov menyandang status tersangka dari Komisi Pemberantasan Korupsi untuk kedua kalinya, --setelah sebelumnya menang pada sidang praperadilan pertama. Kini, dia pun mengadu nasib kembali lewat praperadilan. Desakan Setnov mundur terus bermunculan dan semakin kuat menyusul penetapan tersangka dan penahanan Setnov yang dilakukan KPK. Mantan Ketua Fraksi Golkar itu sudah mendekam di Rumah Tahanan KPK sejak dua pekan lalu. Mayoritas anggota fraksi di dewan Senayan, di antaranya dari Fraksi PDIP, PAN, NasDem, Gerindra, PPP, Demokrat, PK