Langsung ke konten utama

Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta, Menjadi Kuasa Hukum Seorang Ibu yang Digugat Anaknya


Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Kamis (30/03/2017) pagi mengunjungi Siti Rohaya (83) atau Amih, seorang ibu asal Garut, Jawa Barat yang digugat membayar ganti rugi Rp1,8 M oleh anak kandung dan menantunya, Yani Suryani dan Handoyo Adianto.

Dedi ditemani oleh dua asistennya menggunakan mobil pribadi. Saat tiba di rumah anak bungsu Amih, Leni di Kelurahan Muara Sanding, Garut, sekitar pukul 06.30 WIB, Bupati Dedi langsung disambut oleh Amih dan keluarga yang kebetulan sedang bersiap untuk melangsungkan sidang.

Dedi mengaku datang untuk memberikan dukungan moril kepada Amih dan keluarga yang akan menghadapi sidang lanjutan ketujuh terkait kasus ini, di Pengadilan Negeri Garut, Kamis (30/03/2017) siang ini.

"Ini niat saya dari dalam hati murni untuk membantu Amih, tidak ada unsur apapun. Saya kan udah beberapa kali bantu tanganin kasus kaya gini, mudah-mudahan saja ini akan cepat selesai," katanya.

Suasana sempat mengharu biru kala pria yang akrab disapa Kang Dedi juga turut berkomentar terkait kedua penggugat Yani dan Handoyo yang tetap ingin melanjutkan gugatannya terhadap Amih.

"Ini fenomena di mana uang menjadi segalanya. Sudah saya coba mediasi, tapi mereka tetap pada pendiriannya," kata Dedi.

Meskipun dalam keadaan kelelahan dan mengalami sakit sesak nafas, Amih tampak tetap tersenyum dan tegar untuk menghadapi persidangan hari ini.

"Amih mah tetap berharap agar anak-anak Amih cepat akur lagi, enggak ada permasalahan, Amih sudah cape, pengen nikmatin masa tua," ungkap Amih.

Amih juga tak lupa untuk mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah membantu menguatkannya.

"Amih ucapkan terima kasih banyak kepada semuanya, terima kasih sudah sayang kepada Amih," katanya.

Apakah Anda Tega? Tidak taukah kamu, jika ibumu berani mengorbankan nyawanya untuk melahirkanmu?

Sini minum racun, biar hidupmu lebih menderita...

Postingan populer dari blog ini

Presiden Donald Trump Resmi Dilengserkan, Presiden Ketiga dalam Sejarah AS

Donald Trump WASHINGTON DC  - Presiden AS Donald Trump resmi menjadi presiden ketiga dalam sejarah Negeri "Uncle Sam" yang dimakzulkan atau impeachment. Dalam sidang paripurna yang digelar Rabu malam waktu setempat (18/12/2019), DPR AS menyetujui dua pasal pemakzulan terhadap presiden 73 tahun itu. Pasal pertama: Penyalahgunaan Kekuasaan, mendapat dukungan 230, dengan 197 politisi House of Representatives. Adapun jumlah minimal dukungan yang diperlukan di DPR AS guna membawa proses pemakzulan Trump ke level Senat adalah 216. Sementara pasal 2: Menghalangi Penyelidikan Kongres menerima dukungan 229, dalam hasil yang dibacakan Ketua DPR AS Nancy Pelosi. Trump pun menjadi presiden setelah Andrew Johnson (1868), dan Bill Clinton (1998) yang dimakzulkan di level DPR AS. Setelah ini, tahap selanjutnya dalam proses pemakzulan adalah membawa resolusi tersebut ke level Senat, di mana mereka akan membahasnya tahun depan. Di tahap ini, kecil kemungkinan Tr

Diguyur Hujan Deras Senayan Digenangi Banjir Setinggi 1 Meter

Jakarta - Hujan deras mengguyur Jakarta hingga berjam-jam membuat beberapa titik di Ibukota terendam banjir. Seperti yang terjadi baru-baru ini di daerah Senayan, Senin (17/12/2019) Terlihat dari  video  unggahan oleh seorang Netizen yang dibagikan di grup laman Facebooknya, Daniel Pray , membagikan unggahan video yang menunjukan aktivitas pengendara yang sibuk menyelamatkan kendaraan mereka yang terendam banjir.  Senayan terendam banjir, Senin, (17/12/2019) Dari unggahan tersebut beberapa komentar kocak dan nyeleneh muncul, diantara : Natalia Claudia Soetantiyo   Wuihh keren banget jakarta kaya venice 1 Sembunyikan atau laporkan ini Suka  ·  2 jam Harry Ibrani   Salah ahokkk Sembunyikan atau laporkan ini Suka  ·  1 jam Wendy Tjandra   Jelas ahok yg salah.. kenapa dia sampe kalah dan tidak menjadi gubenur jakarta!!  Kalo gabener skr jgn disalahin lah, percuma dia pinter ngeles..

Setya Novanto Tak Rela Melepaskan Kedua Jabatannya

Setya Novanto alias Setnov masih belum mau melepaskan dua jabatan penting, baik sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Ketua Umum Partai Golkar. Lewat dua pucuk surat yang ditulisnya dua pekan lalu, Setnov meminta tak dilengserkan dari dua posisi tersebut. Mantan Bendahara Umum Partai Golkar itu meminta waktu untuk membuktikan bahwa dirinya tak terlibat dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP, yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. Setnov menyandang status tersangka dari Komisi Pemberantasan Korupsi untuk kedua kalinya, --setelah sebelumnya menang pada sidang praperadilan pertama. Kini, dia pun mengadu nasib kembali lewat praperadilan. Desakan Setnov mundur terus bermunculan dan semakin kuat menyusul penetapan tersangka dan penahanan Setnov yang dilakukan KPK. Mantan Ketua Fraksi Golkar itu sudah mendekam di Rumah Tahanan KPK sejak dua pekan lalu. Mayoritas anggota fraksi di dewan Senayan, di antaranya dari Fraksi PDIP, PAN, NasDem, Gerindra, PPP, Demokrat, PK