Breaking

[recent][ticker2]
Sabtu, 08 April 2017

Stop Intoleran!!!



Indonesia adalah negara multikultural di mana berbagai macam kepercayaan, ras, suku, etnis dan budaya bercampur aduk di sini. Menurut undang-undang dasar 1945 pasal 28, setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan dan hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia, yang berarti kita dengan latar belakang perbedaan harus bisa saling menghormati dan menghargai kebebasan umat beragama lainnya. 

Tapi realita tidak seindah konstitusi. Pada tahun 2014, Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berekspresi (KBB) Komnas HAM, Jayadi Damanik mencatat 74 pengaduan pada tahun 2014, meningkat menjadi 89 aduan pada 2015, bahkan pada enam bulan pertama 2016 sudah tercatat 34 kasus pelanggaran KKB. 

Salah satu kejadian intoleransi terhadap kebebasan umat beragama tersebut bisa kita lihat mulai dari agustus 2015 hingga maret tahun 2017 menimpa pembangunan Gereja Santa Clara di Bekasi. Ini semua karena tuduhan bahwa pembangunan gereja itu tidak sesuai dengan aturan. Padahal, pihak gereja mengklaim sebaliknya. Pemerintah pun mengatakan gereja itu punya izin untuk membangun.

Pengunjuk rasa ngotot, izin gereja itu harus dicabut. Sikap untuk menolak toleransi terhadap praktik-praktik atau penganut kepercayaan seperti inilah yang menjadi masalah di negeri ini.

Tentang kasus Gereja Santa Clara, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan izin pendirian rumah ibadah sudah diatur dalam Peraturan Bersama Menag dan Mendagri (PBM) No. 9 dan 8 tahun 2006. Izin gereja St Clara pun akhirnya dikeluarkan berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, melalui keputusan yang telah disetujui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). 

Izin ini keluar pada 15 Juni 2015 setelah diajukan sejak tahun 2013. Sehingga kasus tuduhan di atas dan pembuktian bahwa izin pembangunan gereja yang legal, tentu perilaku para pendemo di atas dianggap telah mencederai kebebasan beragama dan berekspresi (KBB). 

Bahkan, Kapolres Bekasi dapat menindak kelompok intoleran yang melakukan perusakan dengan Pasal 406 ayat (1) KUHP Tentang Perusakan Barang. Jika seruan-seruan kelompok intoleran juga sudah berupa ajakan melakukan kekerasan atau diskriminasi, maka Kapolres dapat bertindak dengan berpedoman pada Surat Edaran Kapolri No. SE/06/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (SE Ujaran Kebencian).

Konsekuensi dari tindak intoleransi kelompok beragama tertentu membuat banyak dampak negatif mulai dari perpecahan kesatuan dan membuat konflik antar umat beragama, melanggar undang-undang dasar tentang kebebasan beragama, hingga jatuhnya citra salah satu agama karena kelakuan segelintir orang. 
 
Jika kita mau melihat negara lain, mungkin Amerika Serikat (AS) yang dianggap intoleran malah berbeda dari yang terlihat. Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan,Jr, menegaskan AS adalah negara yang sangat toleran karena warganya berasal dari berbagai macam suku dan budaya. 

Ini terbukti pada tahun 2008, muslim Amerika dan Yahudi mengadakan kegiatan yang disebut "The Twinning of Mosques and Synagogues". Dalam kegiatan tersebut, masjid-masjid dan sinagog, kuil umat Yahudi, dipersaudarakan layaknya saudara kembar sekali dalam setahun. Bahkan dukungan warga AS termasuk Russell Simmons dan Kanye West juga terlihat saat ikut berdemonstrasi menentang anggota kongres Peter King yang mengadakan jajak pendapat tentang radikalisasi muslim di AS.

Indonesia harusnya bisa seperti Amerika, mereka bisa belajar untuk menghormati hak asasi orang lain untuk memeluk agamanya masing-masing. Bukankah kita selalu diajarkan untuk menghargai perbedaan oleh orang tua kita? Kita juga mempunyai latar belakang multikultural sama seperti Amerika, tapi begitu sulitkah untuk menghargai orang lain yang juga ingin beribadah sesuai dengan keyakinan mereka? 

Tidak malukah kita kepada negara yang sangat bebas seperti Amerika tapi mereka bisa membuat warganya saling merasa nyaman dan memiliki walaupun mereka berbeda. Bukankah ajaran Tuhan harusnya juga membawa perdamaian untuk manusia dan bukan untuk saling berseteru?

Atas nama keberagaman, atas nama kemanusiaan, dan atas nama kesatuan untuk Indonesia, intoleransi harus berhenti sampai di sini. Kita hidup bersama dengan manusia lain selalu memiliki perbedaan, tidak mungkin untuk membuat semua manusia sama seperti yang kita inginkan. Ingatlah, kita bisa merdeka karena kita bersatu, kita bisa hidup rukun dan damai juga karena kita bersatu. Jika intoleransi terus digaungkan, maka bukan persatuan dan kedamaian yang ada di negeri ini, tapi masalah tak berujung yang akan kita hadapi di kemudian hari.
Stop Intoleran!!! Reviewed by Bongkar Habis on Sabtu, April 08, 2017 Rating: 5 Indonesia adalah negara multikultural di mana berbagai macam kepercayaan, ras, suku, etnis dan budaya bercampur aduk di sini. Menurut...

Label:

Reaksi:

loading...
[FPI][carousel1]

Tidak ada komentar: