"Kesetiaan" Djarot Kepada Ahok Tak Terlupakan Sepanjang Masa - Markibong

Breaking

Jumat, 28 April 2017

"Kesetiaan" Djarot Kepada Ahok Tak Terlupakan Sepanjang Masa

JANGAN LUPAKAN DJAROT YANG BAIK

"Apa yang membuat pak Djarot yakin bahwa pak Ahok itu orang baik ?" Tanya Rosi.
"Hatinya...ya hatinya baik dan bersih, dia tak bisa melihat orang menderita." Jawab Djarot pelan namun penuh keyakinan. Lalu sorot mata Ahok nampak terharu. Mereka bukan hanya pasangan dwitunggal kepemimpinan, tapi juga persahabatan yang menggetarkan.
(Itulah serpihan kisah indah mengharukan antara Djarot dan Ahok dalam acara Rosi Kompas TV).
Konon..
Dulu di awal kisah, ketika beberapa pihak membujuk Djarot untuk maju sebagai Cagub, berikut jawaban Djarot yang mengharukan :
"Saya bukan orang ambisius. Kalau dulu Pak Ahok berjuang mati-matian menghadirkan saya, ketika tidak ada perbedaan prinsip, saya selalu susah senang bersama Pak Ahok untuk membumikan Indonesia," sambungnya.
Djarot lebih dari seorang Wagub untuk Ahok. Hal ini terbukti ketika ia menjadi "Wagub" yang setia kepada Ahok. Dia bahkan tak ingin nama besar. Ia biarkan kredit dan apresiasi bagi sang gubernur. Bagi Ahok, Djarot bukan hanya pasangan pemimpin - tapi juga sahabat.

Ada kalimat bijak indah : "Bahkan ketika dunia ingin menjatuhkanmu, seorang sahabat akan tetap datang dan hadir di sampingmu."

Dan itulah yang dialami Ahok dalam jatuh bangun perjalanannya yang berdarah-darah, Djarot selalu hadir di sampingnya. Bahkan ketika Djarot berkampanye seorang diri dan ditolak habis di beberapa tempat, diusir dan dimaki - ia menghadapinya tanpa gentar sekaligus penuh kesabaran. Dia tetap membela sahabatnya, Ahok. Ia tak pernah menggunting dalam lipatan. Ia setia.

Kini semuanya telah usai. Tapi Djarot telah meninggalkan sebuah pelajaran 'politik kemanusiaan' yang sangat berharga bagi bangsa ini. Persaudaraan dan persahabatan itu tidak bisa disekat oleh perbedaan agama maupun warna kulit. Ahok Cina dan Kristen, Djarot Islam dan Jawa. Djarot menempatkan kepentingan rakyat (DKI dan bangsa) di atas perbedaan primordial itu. Dan di atas segalanya, Djarot menerima Ahok sebagai sesama manusia.

Djarot mengajarkan pada kita semua bahwa puncak agama itu adalah cinta. Bahwa bila kita mencintai Tuhan maka kita harus mencintai ciptaan-Nya. Dan itu semua ia tunjukkan bagaimana ia membela, menjaga dan menyayangi Ahok - sahabatnya.

Di tangan Djarot, sebuah politik menjadi manusiawi. Bangsa ini beruntung memiliki dua putra terbaik bangsa itu. Djarot, namamu juga terukir indah dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Nama yang membikin sejuk hati rakyat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

loading...