Presiden Harus Turun Tangan, Bongkar...Budi Waseso Perintahkan Kompol Muhammad Daud Untuk Menghabisi Nopi - Markibong

Breaking

Senin, 20 Maret 2017

Presiden Harus Turun Tangan, Bongkar...Budi Waseso Perintahkan Kompol Muhammad Daud Untuk Menghabisi Nopi


Kasus Nopi masih menyimpan misteri hingga saat ini, seorang saksi yang ditangkap, di aniaya dan dibunuh oleh petugas BNN, tanpa bukti yang kuat, Nopi pun harus meregang nyawa ditangan para bandit ini.


Penangkapan di komandoi oleh Kompol Muhammad Daud selaku Komandan Operasi Penangkapan ini, harus mendapat perhatian khusus Kapolri dan Presiden. Kompol Daud diduga dilindungi oleh orang berpengaruh di pusat, dalam operasi penangkapan dan rencana pembunuhan terhadap Nopi, terbukti pengakuan Kompol M. Daud dalam memberikan keterangan kepada keluarga korban.




Pengakuan Kompol Daud ini cukup menyayat hati keluarga korban, dalam permintaan maafnya, dia mengakui khilaf atas perlakukan kasarnya terhadap kakak-kakanya Nopi. 


Dia mengakui pusing dan stress karena tekanan pimpinan, lalu ia mengatakan kalau ia diperintah langsung oleh Jenderal Pusat yakni Budi Waseso alias BUWAS, untuk menghabisi Nopi dan ini adalah murni pelanggaran HAM.


Laporan inipun sudah sampai ke Kepolisian  Resor Kota Samarinda dengan Nomor Polisi: B/57.a/I/2017, Laporan Polisi Nomor: LP/1244/XII/2016/Kaltim/Resta Samarinda, KOMNASHAM dengan Nomor Agenda 113.699 (Mohon perlindungan hukum dan keadilan) dan Tanda Terima berkas yang ditujukan kepada KOMPOLNAS. Tapi hingga saat ini, kasus ini tidak menjadi perhatian khusus penegak hukum.


Keluarga menuntut keadilan terhadap kematian Nopi agar para pelaku penganiayaan dan pembunuhan segera ditangkap, dipecat dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku.

Berikut Kronologi penangkapan dan penbunuhan terhadap Nopi. Simak, dan bagikan agar hukum ditegakan.




KRONOLOGI KEJADIAN

loading...
Hari Rabu, tanggal 28 Desember 2016
Pukul 13.30 WITA (Sekitar)

Rumah Bapak Nafsahu La Ode Ndigo ayah sekaligus kediaman bertempat tinggal Laode Nopiyandi (Nopi) digrebek sejumlah anggota BNN kalimnatan Timur yang berjumlah lebuh dari 10 orang.Penggrebekan dilakukan tanpa melibatkan/ izin dari RT setempat. Salah satu dari anggota BNN Provinsi Kalimantan Timur menanyakan keberadaan Laode Nopiyandi alias Nopi.

Karena orang tua tidak tahu, ada atau tidak Nopi di rumah, akhirnya Bapak Nopi mengantar petugas ke kamar Nopi, sambil memanggil “Nopi, bahwa ada polisi yang cari. Beberapa petugas lain menjelaskan kepada Ibu Nopi bahwa Nopi akan diambil untuk diperiksa sebagai saksi (sabar bu ya, anak ibu untuk saksi) ucap salah satu anggota BNN Provinsi Kalimantan Timur.

Setelah bapaknya Nopi mengantar petugas ke kamar Nopi sambil mengetuk pintu kamar dan memanggil Nopi, akhirnya Nopi terbangun drai tidur karena saat itu sedang tidur, lalu membuka pintu dan seketika itu juga langsung di borgol, dipukul, ditendang dan diseret oleh petugas BNN Provinsi Kalimantan Timur didepan kedua orang tuanya Nopi sembari petugas yang lainnya menggeledah kamar Nopi.sementara seorang petugas pemimpin operasi penjemputan saksi yang sekarang diketahui bernama Muhamad Daud langsung melepaskan tembakan ke atas udara sebanyak kurang lebih 3 kali.

Pada saat itu juga rombongan petugas BNN Provinsi Kalimantan Timur menggeledah kamar lainnya termasuk kamar orang tua Nopi, dengan sikap yang tidak patut karena tetap memakai sepatunya saat masuk rumah termasuk dalam penggeledahan kamar-kamar dalam rumah.
            
“Bukan saya pak, bukan saya pelakunya!” Nopi berteriak berulang kali, bahwa Nopi, mengaku bukan dia pelakunya. Namun dari anggota BNN Provinsi Kalimantan Timur tidak menhiraukan perkataan Nopi, malah petugas BNN Provinsi Kalimantan Timur bertambah keji dan bertindak seakan-akan Nopi adalah pelaku penikaman itu. Akhirnya Ibunya Noopi mengikuti kemana anaknya dibawa dan diseret petugas, yang bersamaan dengan itu, Ibu Nopi mendapat ancaman dari salah satu anggota BNN Provinsi Kalimantan Timur yang diketahui bernama M.Daud sebagai kepala operasi penjemputan Nopi untuk sebagai saksi, dan berkata kepadanya Ibunya Nopi “Ibu siapkan saja kuburan dan kain putih untuk kubur anak Ibu baik-baik”.

Mendengar perkataan itu, Ibunya Nopi menjerit sejadi-jadinya disaksikan sejumlah warga yang berada di tempat kejadian. Nopi lalu dimasukkan ke dalam mobil bagian belakang, yang semestinya kursi bagian belakang mobil itu dapat dilipat dan sepatutnya Nopi dapat tempat yang leluasa berada di belakang mobil, namun kursi tidak dilipat dan Nopi dijejal di antara kursi dan pintu belakang mobil tersebut.

loading...
Disaat Nopi dibawa dari rumah, M.Daud pimpinan operasi penjemputan sebagai saksi penikaman anggota BNN Provinsi Kalimantan Timur, memberikan map berwarna merah kepada bapak Nopi, Namun belum sempat dibuka untuk dibaca, map tersebut dirampas kembali dan dibawa pergi tanpa penjelasan. Setelah ibunya Nopi sadarkan diri (siuman), Ibu Nopi langsung histeris berteriak mengulang ancaman yang disampaikan oleh M.Daud sebagai pimpinan operasi penjemputan. “anak ku mau dibunuh! Anakku mau dibunuh! Anakku mau dibunuh sama mereka!” Ibunya Nopi teriak histeris.

Pukul 14.00 WITA Sekirtar

Kakak Nopi yang bernama Eni Septyandi Waode datang bersama saudara-saudaranya yang disusul warga, kemudian orang tua Nopi menjelaskan kejadian yang terjadi. Saudara-saudara Nopi langsung bertindak memencar untuk mencari keberadaannya Nopi di semua kantor Kepolisian termasuk pos-pos Polisi juga kantor BNN Provinsi Kalimantan Timur. Ibu dan saudara-saudara Nopi menunggu di depan kantor BNN Provinsi Kalimnatan Timur. Sebelim itu, pada saat mendatangi kantor BNN Provinsi Kalimantan Timur, mereka sempat menanyakan keberadaan Nopi kepada petugas BNN Provinsi Kalimantan Timur.

“Apakah Nopi dibawa kesini?” tanya mereka berulang-ulang kepada petugas BNN Provinsi Kalimantan Timur.
            
Oleh seseorang di kantor BNN Provinsi Kalimnatan Timur berujar : “oh yang di jalan Kakap itukah?” keluarga kembali bertanya dan dijawab oleh staf yang berjaga di BNN Provinsi Kalimantan Timur bahwa “tidak ada, dan belum datang”.

Ibu dan saudara Nopi diperintahkan untuk pulang namun mereka tetap menunggu hingga pukiul 17.30.

Pukul 18.00 WITA (Sekitar)

Sesampainya di rumah, sekitar pukul 18.30 WITA, karena terlalu lama menunggu dan tidak menemukan Nopi, akhirnya orang tua Nopi teringat dengan ancaman pimpinan operasi penjemputan Nopi sebagai saksi, bernama M.Daud bahwa : “Ibu siapkan saja kuburan dan kain putih untuk kubur anak ibu baik-baik.

Orang tua(mama Alm) sambil menangis menyampaikan kepada saudara-saudara dan berkeluarga bahwa :”Kalau kalian tidak mencari adik kalian malam ini bisa dibunuh”. Maka mereka pun berpikir dan berinisiatif mencari ke beberapa Rumah sakit yang berada di Samarinda.

Pukul 19.25 WITA (Sekitar)

Dari pencarian ke beberapa rumah sakit di Samarinda. Akhirnya sekitar pukul 19.00 kakak dari Alm. Nopi yaitu Eni Septyandi Waode dan Triyadi tiba di rumah sakit umum Abdul Wahab Syahrani, mereka berdua melihat banyak orang yang memenuhi depan UGD Rumah Sakit Umum Abdul Wahab Syahrani. Mereka langsung menghampiri UGD, Namun  belum bisa masuk ke dalam karena ada penjagaan. 

Di antara security yang berada di depan pintu UGD, kakak dari Nopi mengenal salah satu securitynya. Dan Eni langsung menanyakan keberdaan Nopi, lalu bersama security tersebut kakak Nopi dibawa ke Pos, sesampainya di pos, security tersebut membenarkan bahwa Nopi memang berada di UGD di ruang tindakan karena luka tembak di kaki kiri dan kanannya serta luka lebam di sekujur tubuh dan wajah Nopi yang sangat parah. Mendengar cerita tersebut, kakak-kakak dari Nopi merasa khawatir dan memohon kepada security agar dibawa untuk melihat keadaan Nopi. 

Security akhirnya membawa mereka lewat pintu belakang UGD. Sesampainya diruang tindakan UGD ternyata Nopi sudah tidak ada di ruangan tersebut. Kemudian security bersama kakak-kakak Nopi menanyakan kepada perawat yang bertugas “Mba, mana pasien yang terkena tembak itu?” lalu perawat menjawab dan menjelaskan “Pasien sudah dibawa pulang” mereka menanyakan lagi “kenapa pulang?” perawat menjawab “dipulangkan paksa” sambil menyodorkan surat yang ditandatangani oleh pihak BNN. Perawat melanjutkan “Mungkin masih ada di depan UGD” Fakta yang didapat, mereka meihat sendiri bahwa Nopi masih diatas brangkar (ranjang pasien). 

loading...
Dalam posisi duduk lemah dengan luka tembak di kedua kakinya dan wajah penuh lebam dan terluka, mereka pun mendekati Nopi dan kakak dari Nopi berucap, “ Nopi kamu kenapa?” teriak Eni Septyandi Waode khawatir sambil menangis. Petugas BNN Provinsi Kalimantan Timur, lalu datang menghadang mereka, Nopi pun sempat menoleh kearah mereka. Petugas BNN juga membentak dan mendorong Eni dan Triyadi dari samping Nopi ke tepi. Petugas BNN Kalimantan Timur juga melakukan tindakan kasar kepada Triyadi dengan menendang dan memukul kepala Triyandi.
            
Eni Septyandi Waode, kakak kandung Laode Nopiyandi (Nopi panggilan sehari-hari) pada saat ittu dikepung sekelompok anggota dan security setempat. Karena melihat kakaknya diperlakukan kasar oleh petugas, maka Nopi berteriak dengan keras,”Oii Lin sudah!!!” (Lin/Lina adalah panggilan sehari-hari Eny Septiyandi Waode, kakak Nopi).

Pukul 22.00 WITA (Sekitar)

Kemudian Eni dan Triyadi “kakak Nopi pulang ke rumah, karena tidak bisa mengikuti dan bertemu dengan Nopi. Karena melihat kondisi terakhir Nopi yang sangat parah, sesampainya dirumah saudara-saudara Nopi, orang tua Nopi berunding menghubungi pengacara untuk pergi menemui Nopi di kantor  BNN Provinsi Kalimantan Timur dan berjanjian bertemu di kantor BNN Provinsi Kalimantan Timur. Orang tua dan saudara-saudara Nopi (Eni & Triyadi) kembali mendatangi BNN Provinsi Kalimantan Timur. 

Sesampainya di BNN Provinsi Kalimantan Timur orang tua dan saudara-saudaranya Nopi disambut dengan hangat oleh anggota BNN Provinsi Kalimantan Timur yang tadi menjemput Nopi.Mereka bersalaman dan dipersilahkan duduk oleh komandan operasi penjemputan Nopi sebagai saksi yakni M.Daud, kemudian M.Daud meminta maaf dan mengakui atas apa yang dilakukan kepada keluarga dan saudara Nopi, terutama ibunda Nopi yang telah diancam (untuk menyiapkan kuburan dan kain putih untuk dikubur baik-baik).

M.Daud meminta maaf dan mengakui atas perilakunya yang kasar kepada kakak-kakaknya Nopi, kemudian M.Daud mengatakan kalau dia khilaf, pusing dan stress karena tekanan Pimpinan. Lalu dia mengatakan kalau dia diperintah langsung oleh Jenderal Pusat yaitu BUWAS (Budi Waseso) untuk menghabisi Nopi.
            
Sebelumnya Pak M.Daud memperkenalkan diri sebagai Komandan Operasi Lapangan BNN Provinsi Kalimanatan Timur, berpangkat AKBP dan menyebut kalau di tentara setara dengan Letkol (Letnan Kolonel). Pak M.Daud lanjut menjelaskan bahwa “selama menjabat ini sudah banyak yang saya alami” Tinggal mati nya saja yang belum saya alami”. 

loading...

Lalu kata Pak M.Daud. “seandainya ada yang ingin macam-macam dengan saya, janganlah saat sekarang, Kasihan kalian. Tunggulah saya pensiun dulu, lanjutnya. Keluarga tidak mengerti arah, maksud dan tujuan Pak M.Daud berkata seperti itu.
Kemudian ibu nopi menanyakan kondisi anaknya, Kepada M. Daud, Bagaimana keadaan anak saya, apa masih hidup?”. 

Komandan operasi lapangan BNN Kalimantan Timur, M. Daud menjawab “Tenang bu, anak ibu masih hidup, nafasnya masih panjang.” Kemudian ibu dan ayah alm. Bertanya lagi, “Bagaimana luka tembaknya?, apa perlu dirawat lagi?, karena dengar-dengar kan harus dioperaso. Bia rkami biaya sendiri juga tidak apa-apa”. Pak M. Daud menjawab, “Tidak apa-apa. Pelurunya tidak bersarang, jadi tidak perlu penanganan khusus, terlebih disinipun sudah ada perawat dan dokter”. 

“Kondisinya baik-baik saja, tadi barusan habis merokok,” Tambah M. Daud sambil menujuk layar CCTV yang dimaksud tempat Alm. Nopi Merokok, yang pada saat ditunjukan ruangan tersebut kosong.

loading...
Keluarga dan pengacara memohon untuk bertemu dengan Nopi walaupun sebentar, itupun masih tidak diperbolehkan, dengan alasan belum waktunya (harus 6 hari kedepan). “Inikan masih dalam proses, tokoh utamanya juga belum dapat.  Jadi ibu tenang saja,” ucap M. Daud.

Ibu dan kakak korban ingin membelikan makanan namun ditolak juga oleh Komandan Operasi penjemputan sebagai aksi terhadap Nopi yakni bapak M. Daud dengan alasan sudah diberi makanan yang spesial diwarung soto. Bahkan M. Daud mengaku sempat berfoto bersama Nopi. Namun dia tidak menunjukan foto tersebut.

Komandan M. Daud berusaha menenangkan keluarga dengan mengatakan kalau di BNN Provinsi Kaltim ada perawat, jadi keluarga tidak perlu cemas (sambil menunujuk perawat yang baru keluar dari ruangan dalam).

Kemudian keluarga pamit pulang sekitar pukul 23.30, dan dia mencoba meyakinkan bahwa proses penangkapan tadi sudah disertai surat penangkapan, tapi di jawab oleh ayahnya Nopi, “Belum sempat membaca sudah diambil oleh M. Daud, dan saya tidak tau apa isinya”. Sudahlah, tidak usah di permasalahkan itu pak,” Bantah M. Daud kepada ayah Nopi.

Pada intinya sebelum keluarga Nopi pulang, M. Daud CS meyakinkan bahwa Nopi baik-baik saja dan sehat wal’afiat.

Tanggal 29 Desember 2016
Pukul 00.15 WITA (Sekitar)

Setibanya dirumah dan beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 00.15 malam anggota BNN Provinsi Kaltim kembali datang dengan niat membawa orang tua Nopi ke Rumah Sakit Umum AW. Syahrani dengan alasan Nopi kekurangan darah dan mengajak bapaknya Nopi untuk ikut bersama mereka. 

Namun bapaknya Nopi menolak dengan alasan kami punya kendaraan sendiri. Kemudian anggota BNN tersebut pergi tanpa pamit dengan wajah mencurigakan. Tanpa berpikir panjang, keluarga langsung menuju Rumah Sakit Umum AW. Syahrani, tidak satupun anggota BNN dan aparat keamanan berada disitu. Eni pun langsung masuk ke dalam UGD dan mencari ruang tindakan, kemudian salah satu security menghampiri Eni.

“Ibu cari siapa?” tanya security tersebut.

“Saya cari adik saya,” Jawab Eni.

“oh, yang dibawa polisikah? Tanya security tersebut. “Iya” jawab Eni.

“Adik ibu sudah ada dikaamr mayat,” ujar security. Spontan Eni berteriak histeris menangis dan berlari menuju kamar mayat sambil menelpon keluarga. Eni mendapati Nopi sudah terbujur kaku tanpa ditutupi sehelai kainpun dan ditinggal seorang diri (tidak ada satupun petugas BNNP Kaltim yang berada ditempat dan bertanggung jawab).

Ketika itu keluarga Nopi berdatangan, Nopi meninggal secara tidak wajar, penuh luka lebam dan luka tembak. Disiksa secara keji tanpa prikemanusiaan dan diperlakukan melebihin kejahatan seorang Teroris.

Demikian Kronologi penganiayaan terhadap Nopi oleh anggota BNN yang di Komandoi oleh Kompol Muhamaad Daud CS, atas Perintah  BUWAS


Tangkapppppp.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

loading...