Breaking

[recent][ticker2]
Minggu, 05 Maret 2017

Mau Tau Siapa Ustad Arifin Ilham, Simak Disini...Bongkar...



Di tengah gegap-gempita menyambut Raja Salman, saya sengaja menahan diri untuk tidak menulis dari sisi gelap. Tidak mengkritisi hal-hal yang buruk tentang Saudi Arabia. Saya ingin menghargai histeria massa. Bagaimanapun Raja Salman adalah tamu Negara. Kehormatannya adalah kehormatan Negara.
Sebenarnya sebelum Made Supriatma menyentil dengan tulisannya, saya sudah mempersiapkan satu tulisan berisi kritik untuk Raja Salman. Begitu juga sebelum Iqbal Aji Daryono “ngece” dengan status guyon-nylekitnya itu, saya sudah mengatur napas dan kuda-kuda. Namun saya memang harus menunggu euforia surut.
Tak disangka salah satu ulama kita yang bersahaja, Arifin Ilham asyik berfoto mesra dengan bahaya laten, Zakir Naik. Batas tunggu itu saya anggap selesai.
Kenapa Zakir Naik ini berbahaya?
Pertama, karena dia Wahabi. Raja Salman otomatis juga Wahabi, karena aliran radikal ini memang lahir di tanah yang sekarang bernama Arab Saudi, tahun 1800-an. Namun sejak dulu, keluarga raja Saud sebenarnya tidak agamis. Soal hapal Quran dan sebagainya itu hanya pencitraan. Keluarga raja sangat moderat, sangat Barat, paham dunia luar. Maka kalau putri raja tak berjilbab, atau pangeran gila pesta, bukan sesuatu yang wah.
Wahabi adalah paham yang menghendaki pemurnian agama dengan cara radikal. Ulama-ulama di sekitar Makah-Madinah terdahulu dibunuh karena tak sejalan dengan ideologi ini. Termasuk ulama Indonesia yang mendunia, Syaikh Nawawi Albantani. Bahkan Mbah Hasyim, salah satu pendiri NU menulis kitab, Risalah Ahli Sunah Wal Jamaah, khusus untuk menangkal paham keras ini.
Kedua, karena Zakir Naik sering menghina agama lain. Ini akan jadi kabar buruk bagi negara plural seperti Indonesia. Zakir Naik akan menyuburkan radikalisme di Indonesia. Para wahabi yang diam-diam menyusun kekuatan akan mendapat dorongan tenaga. Yang perlu diingat, terorisme internasional seluruhnya berpaham wahabi. Mereka tidak menghendaki keberagaman. Ingin memperhangus kebhinekaan. Melahirkan konflik berkepanjangan. Semua itu demi ilusi radikal yang mereka yakini.
Ini akan jadi bahan bakar baru dari friksi keagamaan di Indonesia. Orang ini sangat berbahaya bagi ketenteraman.
Ketiga, Zakir Naik dibanned banyak negara. Selain Kanada, Inggris juga menyatakan Zakir Naik berbahaya. Padahal kita tahu, walikota London adalah seorang muslim. Zakir Naik tidak sedang mengajarkan semangat islam rahmatan lil’alamin. Ceramahnya berisi doktrin berbahaya. Aksi terorisme di Bangladesh dikabarkan karena terinspirasi dari ceramahnya. Ajarannya itu konon bahkan dilarang di negaranya sendiri, India.
Negara-negara itu mencegah Zakir Naik masuk ke sana bukan karena takut kebenaran yang dibawanya. Karena Zakir Naik hanya membawa isu kebencian, permusuhan, dendam, bukan kebenaran. Memasukkan seorang fanatik buta di tengah kalangan sekular seperti menjatuhkan bom atom di tengah keheningan.
Keempat, Zakir Naik menolak dialektika. Dalam pentas “teater” berkedok dialog agamanya, Zakir Naik tidak mengarah pada pembuktian logis sesuai prinsip ilmu pengetahuan. Ia menghindari terjadinya komunikasi efektif dan gamblang. Ia memotong dialog dan mengakhiri dengan kesimpulan sesukanya.
Ini bukan ciri pecinta ilmu pengetahuan. Ia hanya tipikal orang yang tak mau menerima kebenaran. Padahal dialektika adalah jalan tengah untuk memutus tesis-antitesis sehingga menghasilkan sintesis. Dan Zakir Naik bukan model intelektual seperti itu. Ia bahkan bukan dari kalangan intelektual, sekalipun dalam bidang perbandingan agama.
Zakir juga sering menyebarkan idiokrasi dengan kedok keimanan. Ia menantang sains dengan cara tak masuk akal. Dengan semena-mena ia mencuci otak jamaahnya. Diktumnya yang tekenal konyol adalah, if you eat pig, then you behave like pig. Simple science!
Kelima, Zakir Naik tidak memiliki sanad keilmuan yang jelas. Di Indonesia, kisah keulamaan Zakir Naik ini mirip Aa Gym. Tidak belajar agama secara khusus, hanya membaca buku dan menghadiri ceramah dan dialog agama, tiba-tiba ia mengaku sebagai ulama. Mengisi ceramah ke mana-mana. Padahal kalau dijajaki keilmuannya, baik ilmu fikih, tafsir, ilmu alat, hadits, ilmu kalam, tasawuf, nol besar.
Ia hanya mengaku terinspirasi seolah ahli perbandingan agama dari Afrika, Ahmad Deedat. Padahal, pelajaran agama yang diperolah Zakir naik dari baca buku, hanya dalam rentang tiga tahun. Itupun menyambi kuliah kedokteran. Tiba-tiba saja ia jadi seorang ulama yang berhak menyesatkan ulama ahli fikih di masa lampau.
Yang mengejutkan dari kunjungan dedengkot Wahabi satu ini ke Indonesia, adalah kedekatannya dengan Arifin Ilham. Patut dicurigai, Arifin adalah orang yang bersimpati pada wahabisme. Ulama yang sering bermain “drama” ini memang sering bersinggungan dengan kelompok radikal tanah air. Ia memang akan dengan mudah cuci tangan dengan berbagai apologi. Namun kedekatan semacam itu mustahil tak saling mencemari. Dalam banyak kegiatan FPI misalnya, Arifin Ilham sering hadir sebagai ujung tombak.
Umat Islam Indonesia, khususnya NU harus mencatat baik-baik keakraban Arifin Ilham ini. Ia bisa jadi adalah penyebar bibit wahabisme baru di Indonesia. Satu ajaran radikal yang mati-matian ditolak para pendiri NU sejak awal.
Arifin Ilham adalah tokoh yang pernah melahirkan kontroversi dengan mengatakan, Nabi juga tidak bisa adil dalam hal poligami. Padahal ia keliru menafsiri ayat, “Walan tastatii’uu an ta’diluu bainan nisa’i walau harastum…” seperti yang diberitakan dalam: http://m.tribunnews.com/seleb/2015/02/22/ustaz-arifin-ilham-dituding-lecehkan-nabi-muhammad-saw
Dan yang perlu diketahui, saya adalah orang yang menyentilnya di FP miliknya sebelum ucapan kontroversial itu muncul.

Sentilan itu lahir karena Arifin Ilham tidak memahami realitas hukum dan memaksa Jokowi untuk melakukan intervensi pada satu kasus hukum. Ini adalah perbuatan yang berbahaya bagi keadilan. Hukum tidak boleh diintervensi oleh siapapun, termasuk Presiden. Ia melakukan itu melalui surat terbuka dengan bahasa yang lebay, seperti menyebut Jokowi, “Ayahanda.” Persis yang kemudian diulangnya dengan menyebut Zakir Naik “Kakanda.”
Arifin Ilham memang sosok yang lebay dan suka melebih-lebihkan. Hal itu terlihat dari gambar berikut.
Saat orang lain tenang menyimak ceramah Raja Salman dalam Bahasa Arab, Arifin begitu khusuk mendengarkan lewat headset. Padahal mungkin itu terjemahan. Saya berharap kelebay-an itu pula yang mengilhaminya menganggap Zakir Naik seorang Kakanda. Karena jika ia betul menjiwai kewahabian Zakir Naik, ini adalah alarm bahaya bagi Indonesia. Satu orang wahabi berpotensi muncul dari kalangan yang dianggap moderat, apalagi jika ia dianggap bagian dari Nahdliyin.
Arifin Ilham bersahabat dengan dedengkot Wahabi bernama Zakir Naik, ini adalah kabar buruk dari luar Istana, 
Bongkar.....
Mau Tau Siapa Ustad Arifin Ilham, Simak Disini...Bongkar... Reviewed by Bongkar Habis on Minggu, Maret 05, 2017 Rating: 5 Di tengah gegap-gempita menyambut Raja Salman, saya sengaja menahan diri untuk tidak menulis dari sisi gelap. Tidak mengkritisi hal-h...

Reaksi:

loading...
[Teroris][carousel1]

4 komentar:

  1. Yang Suka Dengan Bonus Besar Besaran Cek LINK https://goo.gl/Foi8Nl

    BalasHapus
  2. Situs abal-abal...penebar fitnah dan kebencian

    BalasHapus
  3. NU abal-abal yang sedang kebingungan karena pengaruh Wahabi makin menyebar di Indo,

    BalasHapus
  4. Situs ini dibentuk oleh non muslim yang berusaha menghancurkan Islam dengan berita-berita dusta dan tanpa bukti. Ditulis semau penulisnya, yang penting, pembaca terprofokasi.

    BalasHapus